Pada 7 Januari 2022, dalam sebuah pengajian Muhammadiyah di Masjid Jogokaryan, KH. Muhammad Jazir Asp menyampaikan sebuah pesan yang hingga hari ini layak untuk terus diangkat dan direnungkan. Tema pengajian itu adalah “Memahami Muhammadiyah sebagai Gerakan Tajdid dan Amar Ma‘ruf Nahi Munkar”, namun substansi yang beliau tekankan jauh melampaui kerangka tematik formal. Ia menyentuh jantung terdalam identitas Muhammadiyah: soal orientasi hidup, keikhlasan, dan semangat bersegera menuju akhirat.
KH. Jazir mengingatkan bahwa sejak awal berdirinya, ketika Muhammadiyah mendaftarkan diri kepada Pemerintah Hindia Belanda, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah telah menegaskan cita-cita yang sangat jelas: menggapai surga Jannatun Na‘īm dan mewujudkan masyarakat baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr. Rumusan ini bukan sekadar kalimat normatif organisasi, melainkan pernyataan ideologis yang sangat tegas. Bermuhammadiyah sejak mula adalah pilihan jalan hidup—jalan dakwah yang berorientasi akhirat, bukan sekadar pilihan struktural atau identitas sosial.
Karena itulah, pada masa-masa awal, bergabung dengan Muhammadiyah terasa seperti mendaftarkan diri untuk masuk surga. Ada daya magnet spiritual yang kuat. Orang-orang berlomba bukan untuk mencari keuntungan, tetapi untuk memberi. Dari semangat inilah sekolah-sekolah Muhammadiyah berdiri dengan cepat, masjid-masjid dibangun, dan wakaf-wakaf digerakkan. Semua lahir dari kesadaran kolektif bahwa amal di jalan Allah adalah investasi akhirat yang paling bernilai.
Nilai paling inti yang diwariskan adalah keikhlasan. Keikhlasan yang tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjelma menjadi etos hidup. Ruh keikhlasan inilah yang kemudian menjadi ciri khas Muhammadiyah dan menyebar hingga ke pelosok-pelosok. Tidak berlebihan jika Bung Karno, ketika menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Kiai Ahmad Dahlan, menyebut beliau sebagai sosok sepi ing pamrih, rame ing gawe: sunyi dari pamrih pribadi, tetapi sibuk bekerja untuk umat. Muhammadiyah tumbuh dari kerja sunyi semacam ini.
KH. Jazir juga mengangkat kisah SD Muhammadiyah Gantung di Belitung Timur pada 1981. Ketika sekolah itu nyaris ditutup karena jumlah murid yang sangat sedikit, kepala sekolahnya ditawari pindah ke sekolah perusahaan timah dengan kesejahteraan yang jauh lebih menjanjikan. Namun jawabannya sederhana dan mengguncang: “Kami di Muhammadiyah dididik untuk memberi, bukan untuk menerima.” Dalam kalimat itulah etos Muhammadiyah menemukan bentuknya yang paling jujur. Tidak mengherankan jika lambang Muhammadiyah adalah matahari: terus menyinari, memberi cahaya dan kehidupan, tanpa berharap balasan.
Semangat keikhlasan dan pengorbanan itu pula yang tercermin dalam perintisan Masjid Jogokaryan. Dengan kesungguhan dan kecepatan yang luar biasa, hanya dalam sebelas bulan masjid ini berdiri. Batu pertama diletakkan pada 22 September dan kurang dari setahun kemudian, pada 20 Agustus 1967, masjid telah diresmikan. Ini bukan sekadar kisah pembangunan fisik, melainkan potret dakwah amar ma‘ruf nahi munkar yang dijalankan dengan keberanian berkorban dan kesadaran akan urgensi.
Dalam refleksinya, KH. Jazir juga mengingatkan tentang tradisi dakwah Muhammadiyah di Yogyakarta pada masa lalu. Dakwah nyaris tidak mengenal “amplop”. Azan, khutbah, dan pengajian dilakukan sebagai ibadah, bukan profesi. Prinsip yang hidup adalah: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah.” Dakwah dipahami sebagai panggilan iman. Meski perkembangan zaman kemudian menuntut penyesuaian administratif, ruh dasarnya tidak berubah: dai Muhammadiyah bukan orang yang hidup dari dakwah, melainkan orang yang hidup untuk berdakwah. Setiap kader adalah dai, setiap anggota adalah pelaku dakwah.
Namun pesan KH. Jazir tidak berhenti pada romantisme masa lalu. Dengan jujur beliau mengajak kita bercermin pada kondisi hari ini. Semangat bersegera menuju surga Jannatun Na‘īm terasa mulai mengendur. Padahal Allah telah memerintahkan, “Wa sāri‘ū ilā maghfiratin min rabbikum wa jannatin ‘arḍuhā as-samāwātu wal-arḍ.” Bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu dan surga-Nya. Realitasnya, azan sudah berkumandang, tetapi langkah masih santai. Masjid berdiri megah, tetapi belum selalu dipenuhi jamaah yang bersegera.
Karena itulah, pengajian dan kajian—seperti yang disampaikan KH. Jazir—harus menjadi momentum untuk menangkap kembali ruh bermuhammadiyah: ruh kesungguhan, keikhlasan, dan orientasi akhirat. Ruh inilah yang dahulu mampu mengubah masyarakat Jogokaryan dari yang jauh dari agama menjadi masyarakat dengan semangat keberagamaan yang hidup. Kita bersyukur atas capaian itu, tetapi sekaligus harus waspada agar ia tidak menurun dan kehilangan daya dorongnya.
Ruh bermuhammadiyah sejatinya adalah ruh ittibā’ kepada Rasulullah ﷺ. Ia tampak konkret dalam komitmen salat berjamaah, dalam kesediaan berkorban, dan dalam kesungguhan menghidupkan sunah. Suasana Iduladha di Jogokaryan sering menjadi saksi hidupnya ruh itu. Dari masa ketika delapan ekor kambing saja sudah terasa luar biasa hingga hari ini ketika puluhan sapi dikurbankan, semuanya mencerminkan proses berislam yang hidup, serius, dan penuh pengorbanan.
Masjid Jogokaryan adalah buah dari mata rantai dakwah Muhammadiyah yang sambung-menyambung, khususnya dari Karangkajen. Setelah lebih dari setengah abad berdiri, tanggung jawab generasi hari ini adalah menjaga kesinambungan itu—menolak stagnasi dan mencegah antiklimaks gerakan. Jika semangat melemah, solusinya bukan semata pembenahan administratif, melainkan penyuntikan kembali ruh dakwah.
Mengangkat kembali apa yang disampaikan KH. Muhammad Jazir Asp berarti menghidupkan kembali kesadaran bahwa bermuhammadiyah bukan soal rutinitas organisasi, melainkan soal arah hidup. Soal ke mana kita berlari, dan seberapa sungguh-sungguh kita bersegera. Sebab, pada akhirnya, ruh Muhammadiyah adalah ruh orang-orang yang berlari menuju ridha Allah dan Jannatun Na‘īm.
Sumber Link: https://www.youtube.com/live/ngX9zRihitQ